Mengapa Belajar Bahasa Asing Mengubah Otak, Ego, dan Membuat Dunia Terasa Lebih Luas
Berhenti Hidup dalam Kabut: Mengapa Membatasi Diri dengan Satu Bahasa Membuat Kita Setengah Buta

Pernah nggak merasa hidup kok gini-gini aja, kita seakan berjalan di ruangan yang sempit, padahal dunia di luar sana begitu luas, dan bahkan belum pernah kita jelajahi sama sekali?
Saya teringat akan sebuah puisi yang berjudul The Age of Anxiety, karya W.H. Auden. Puisi ini menggambarkan era penuh kecemasan dan pencarian identitas manusia di dunia yang berubah drastis setelah Perang Dunia II. Rasanya hari ini, kita mulai mengerti seperti apa era yang digambarkan pada masa itu.
Bedanya, jika dulu kecemasan Auden lahir dari puing-puing fisik pasca-Perang Dunia II, kini di tahun 2026, kecemasan kita lahir dari konstruksi status sosial yang semu, ilusi kesempurnaan era digital, hingga standar hidup yang kian tidak realistis.
Di internet, kita mendengar istilah Quarter-Life Crisis bertebaran di mana-mana. Kita merasa tertinggal, stuck, dan merasa dunia bergerak terlalu cepat sementara kita berjalan di tempat. Seringkali, solusi yang ditawarkan adalah kerja lebih keras, investasi lebih dini, atau cari network yang lebih luas.
Tapi bagaimana jika saya katakan bahwa rasa sempit dan stuck itu ternyata bukan karena kita kurang berpacu, melainkan karena kabut yang menyelimuti persepsi kita? Kabut itu bernama “Monolingualisme”. Keyakinan tak sadar bahwa satu bahasa sudah cukup untuk memahami dunia, seolah-olah tak ada cara lain yang sama sahnya.
Ada sebuah ilusi bahwa bahasa hanyalah alat komunikasi, sekadar cara berbeda untuk memesan kopi atau menanyakan arah ke toilet. Namun, riset tiga dekade terakhir dalam neurosains dan filsafat menunjukkan sesuatu yang jauh lebih fundamental: Bahasa adalah sistem operasi otak kita.
Jika kita hanya menjalankan satu sistem operasi, kita tidak sedang melihat dunia sebagaimana adanya. Kita sedang melihat dunia yang telah dikerdilkan oleh batasan kosakata dan tata bahasa ibu kita. Pahami ini dengan jernih, ini bukan ajakan untuk melakukan “uninstall” pada bahasa ibu kita. Bangga berbahasa Indonesia adalah kode dasar yang membentuk siapa diri kita. Namun, tidak ada hukum alam yang melarang kita untuk menginstal sistem atau software tambahan, bukan untuk menggantikan, melainkan untuk melipatgandakan kapasitas prosesor otak kita.
Mari kita bicara tentang bagaimana menghapus kabut ini bisa mengubah kita menjadi manusia dengan jiwa yang lebih besar, otak yang lebih tangguh, dan pandangan yang tak terbatas dalam memandang dunia.
1. Kita Tidak Melihat Dunia Apa Adanya, Kita Melihatnya Lewat Bahasa
Mari kita uji sistem operasi otak kita dengan pertanyaan filosofis: Apakah warna biru itu nyata?
Bagi kita, penutur Bahasa Indonesia (atau Inggris), biru adalah biru. Mungkin ada biru muda dan biru tua, tetapi semuanya tetap masuk dalam satu folder kategori yang sama. Namun, bagi penutur bahasa Rusia, tidak ada satu kata tunggal untuk “biru”. Bahasa mereka mewajibkan pembedaan antara goluboy (biru muda) dan siniy (biru tua) sebagai dua kategori yang benar-benar terpisah, seperti merah dan merah muda (pink) bagi kita.
Apa dampaknya? Otak penutur bahasa Rusia menunjukkan lonjakan aktivitas yang lebih tajam, ketika gradasi warna bergeser dari goluboy ke siniy dalam sebuah eksperimen persepsi. Otak mereka secara harfiah merespons sebuah batas yang bagi kita para penutur bahasa yang lebih monolingual, nyaris tak terlihat. Mereka melihat sesuatu yang luput dari radar persepsi kita. Jika contoh ini terasa jauh, mari kita turunkan ke sesuatu yang lebih dekat, misalnya piring makan kita.
Bayangkan seorang warga Amerika melihat sawah yang menguning dan sepiring nasi di meja makan kita. Bagi dia, keduanya memiliki satu nama yang sama: Rice. Namun bagi kita, menyebut tanaman di sawah sebagai “nasi” terasa janggal bukan? Sistem operasi otak kita (melalui Bahasa Indonesia) memecah realitas itu ke dalam kategori yang jauh lebih presisi: padi, gabah, beras, nasi, hingga bubur.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar label, melainkan lensa. Tanpa kategori yang cukup tajam untuk membedakan, nuansa realitas menjadi buram dan mudah terlewatkan. Kita tidak melihat dunia apa adanya, kita melihat dunia sebagaimana bahasa kita mengizinkan kita melihatnya.
Sekarang, mari kita balik posisinya. Jika Bahasa Indonesia membuat kita begitu “unggul” dalam membedah urusan perut (lewat variasi padi-nasi), bagaimana jika di ranah lain, seperti akurasi logika, konsep teknologi, atau kedalaman filosofis, justru kitalah yang ternyata tumpul?
Pertanyaan yang menghantui kemudian adalah berapa banyak lagi emosi kompleks, ide abstrak, hingga solusi masalah yang gagal kita akses, hanya karena kerangka kerja kognitif kita tak memiliki “folder” untuk itu?
2. Runtuhnya Penjara Ego
Jika bagian sebelumnya bicara soal ketajaman pandangan kita, bagian ini bicara soal posisi kita di semesta.
Salah satu kecenderungan paling bermasalah di zaman ini adalah egosentrisme, perasaan bahwa kitalah pusat dunia. Menariknya, mempelajari bahasa asing ternyata bisa jadi “obat” yang ampuh untuk meruntuhkan dinding penjara ego ini.
Mari ambil contoh kasus dari suku Guugu Yimithirr di Australia. Bahasa mereka tidak mengenal konsep “kiri,” “kanan,” “depan,” atau “belakang.” (koordinat yang berpusat pada tubuh sendiri). Sebaliknya, mereka menggunakan arah mata angin absolut untuk segala hal. Mereka tidak akan bilang, “Ada semut di kaki kirimu,” tapi, “Ada semut di kaki sebelah timur-mu.”
Akibatnya? Bahasa ini memaksa otak mereka untuk selalu beroperasi dalam kerangka ruang yang objektif, bukan hanya terpaku pada tubuh mereka sendiri. Di dalam hutan lebat atau ruang tertutup sekalipun, mereka memiliki kompas internal yang sempurna. Mereka sadar posisi mereka di tengah dunia yang luas.
Mungkin contoh suku pedalaman Australia terdengar terlalu jauh bagi kita. Tapi jujur saja, jauh sebelum membaca riset ini, saya sudah merasakan “tamparan” konsep ini saat pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di Yogyakarta. Culture shock terbesar saya bukanlah Gudeg yang manis, melainkan cara orang Jogja menunjukkan jalan.
Saya ingat betul saat bertanya arah ke kampus pada seorang warga lokal. Saya mengharapkan jawaban simpel seperti, “Belok kiri, lalu kanan, dan sebagainya.” Namun, yang saya dapatkan adalah koordinat geografis:
“Ooh, Mas lurus saja. Nanti ketemu bangjo (lampu merah), jenengan ngidul (ke selatan). Setelah itu ada perempatan, langsung ngetan (ke timur) ya, Mas. Sampai deh.”
Saya terpaku. Di kepala saya yang egosentris, arah itu hanya ada kiri dan kanan. Tapi di Jogja, konsep itu tidak berlaku. Mereka memaksa saya melihat Gunung Merapi sebagai titik utara yang absolut. Mau saya menghadap mana pun, Lor (Utara) tetaplah Lor.
Pengalaman itu memaksa otak saya bekerja keras memetakan seluruh kota di dalam kepala, bukan sekadar mengikuti belokan. Saya belajar bahwa saya bukan pusat dunia, saya hanya satu titik kecil di antara Merapi dan Laut Selatan.
Menariknya, kebiasaan kognitif ini tidak berhenti di urusan ruang dan arah. Begitu ia terbentuk, ia ikut membentuk cara kita memahami manusia lain. Di sinilah pola yang sama mulai bekerja di level sosial.
Riset psikologi menunjukkan bahwa individu bilingual cenderung lebih efisien dalam memahami perspektif orang lain dibandingkan mereka yang monolingual. Mengapa demikian? Hal ini dikaitkan dengan latihan kognitif harian mereka. Karena terbiasa memilah bahasa yang tepat sesuai dengan lawan bicaranya (misalnya: “Apakah dia paham bahasa A atau harus pakai bahasa B?”), otak bilingual menjadi lebih terlatih untuk keluar dari sudut pandang diri sendiri dan mempertimbangkan apa yang diketahui oleh orang lain.
Latihan mikro yang terjadi ribuan kali sehari ini tanpa disadari melatih Theory of Mind. Kemampuan untuk menyadari bahwa orang lain memiliki isi kepala dan sudut pandang yang berbeda dari kita. Mungkin inilah definisi belajar menjadi manusia yang “berjiwa besar”. Bahasa asing memaksa kita keluar dari kepala kita sendiri, berhenti menjadi pusat semesta, dan benar-benar hadir untuk orang lain.
3. Gimnastik Mental dan Sebuah “Keabadian Kecil”
Jika dua bagian sebelumnya bicara soal cara kita melihat dunia dan orang lain, bagian ini menyentuh sesuatu yang tak kalah penting: daya tahan otak kita. Bukan lagi soal memperluas “jiwa” sebagai software, melainkan menjaga hardware biologis termahal yang kita miliki.
Masih ingat kecemasan di awal tulisan ini? Takut tertinggal, takut tidak relevan, takut menua.
Di sinilah kabar baiknya, menjadi bilingual terbukti sebagai salah satu bentuk “asuransi kognitif” terbaik yang bisa kita miliki. Studi neurosains secara konsisten menunjukkan bahwa pasien bilingual yang menderita Alzheimer, rata-rata baru menunjukkan gejala 4 hingga 5 tahun lebih lambat dibandingkan pasien monolingual.
Bayangkan artinya, beberapa tahun tambahan untuk mengenali wajah cucu kita, beberapa tahun tambahan untuk menikmati senja dengan ingatan yang utuh. Bukankah itu sebuah “keabadian kecil” yang tak bisa dibeli dengan apa pun?
Mengapa ini bisa terjadi? Karena otak bilingual tidak pernah diam.
Setiap kali kita berbicara, otak harus menahan satu bahasa agar bahasa lain bisa keluar, sebuah proses inhibisi yang terjadi ribuan kali sehari. Gimnastik mental ini memperkuat Executive Function dan membuat jaringan materi putih (white matter) otak kita lebih padat serta tangguh.
Jadi, lupakan mitos bakat. Kita tidak perlu menjadi jenius sejak lahir. Dengan mempelajari bahasa baru hari ini, kita sedang menabung “cadangan kognitif” untuk masa depan. Salah satu investasi terbaik yang membuat kita tetap tajam bukan karena usia kita muda, tetapi karena otak kita terus dilatih untuk hidup.
4. Jangan Mau Jadi “Warga Kelas Dua” di Internet
Terakhir, mari kita hadapi realitas internet tahun 2026.
Jika poin-poin sebelumnya bicara soal “Software” (Jiwa) dan “Hardware” (Otak), poin ini bicara soal Akses.
Kita sering mengeluh merasa stuck dan dunia terasa sempit. Padahal, seringkali kitalah yang mengunci diri dari luar.
Statistik internet menunjukkan fakta yang kejam.
Konten web berbahasa Inggris mencakup sekitar 52–55% di internet, sementara yang berbahasa Indonesia hanya sekitar 1%. Apa artinya? Jika kita hanya bergantung pada satu bahasa, kemungkinan besar kita hanya mengakses sebagian “sangat kecil” dari ekosistem pengetahuan digital global.
Bayangkan internet adalah sebuah perpustakaan raksasa yang menyimpan seluruh ilmu pengetahuan umat manusia. Menjadi monolingual di internet itu ibarat kita berada di perpustakaan tersebut, tetapi memilih duduk di satu kamar kecil, bukan karena pintu lain tidak ada, melainkan karena kita tidak memegang kuncinya.
Akses terhadap jurnal sains terbaru, prediksi ekonomi global, diskusi filsafat mendalam, hingga peluang kerja remote dengan gaji dolar. Semuanya mayoritas terkunci di balik pintu Bahasa Inggris.
Menghapus “kabut bahasa” berarti kita berhenti menjadi konsumen tangan kedua (yang harus menunggu terjemahan orang lain) dan mulai menjadi partisipan langsung. Lihatlah figur seperti Pak Gita Wirjawan. Kemampuan berpikir dan berbahasa global baginya bukan soal citra, melainkan alat untuk menyerap wacana dunia, lalu menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan secara lokal.
Inilah makna keberdayaan di era digital. Bukan menunggu dunia diterjemahkan untuk kita, melainkan melangkah keluar dan membukanya sendiri, untuk menjemput dunia yang kita impikan.
Mulailah Melangkah Menembus Kabut
Harus diakui, mempelajari bahasa baru memang membosankan, bahkan bagi sebagian orang mungkin menakutkan.
Di tahap awal, kita akan merasa bodoh. Lidah kita akan kaku, memori kita akan buntu. Kita akan dipaksa kembali menjadi bayi yang hanya bisa menunjuk-nunjuk benda dan salah ucap.
Namun, jangan berhenti. Rasa “bodoh” itu adalah tanda bahwa ego kita sedang dikikis. Rasa frustrasi itu adalah sinyal bahwa otak kita sedang bekerja keras membangun jalur saraf baru. Sebuah renovasi besar-besaran pada arsitektur pikiran kita.
Karena itu, berhentilah belajar bahasa semata demi skor TOEFL, IELTS, atau selembar sertifikat kerja. Tujuan itu terlalu kecil untuk potensi yang sedang kita bangun.
Belajarlah karena kita ingin menghapus kabut “monolingualisme” itu. Untuk membuka dunia yang terlalu indah, kompleks, dan terlalu luas jika hanya dilihat dari satu lensa yang sempit. Untuk menjadi manusia yang mampu menavigasi perbedaan, memahami spektrum perspektif, dan memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi ketidakpastian masa depan.
Ludwig Wittgenstein pernah menulis, “Batas bahasaku adalah batas duniaku.”
Jika hari ini kita merasa hidup terasa sempit, terasa stuck, atau dipenuhi kecemasan seperti yang digambarkan Auden, mungkin bukan dunia yang perlu diubah. Mungkin yang perlu diperluas hanyalah batas bahasa kita sendiri.
Barangkali dunia tak pernah sempit, kitalah yang selama ini melihatnya dari terlalu dekat.
Referensi:
- Bialystok, E., Craik, F. I. M., & Freedman, M. (2007). Bilingualism as a protection against the onset of symptoms of dementia. Neuropsychologia, 45(2), 459–464. https://doi.org/10.1016/j.neuropsychologia.2006.10.009
- Boroditsky, L. (2001). Does language shape thought? Mandarin and English speakers’ conceptions of time. Cognitive Psychology, 43(1), 1–22. https://doi.org/10.1006/cogp.2001.0748
- Navarro E, Conway AR. Adult bilinguals outperform monolinguals in theory of mind. Q J Exp Psychol (Hove). 2021 Nov;74(11):1841–1851. doi: 10.1177/17470218211009159. Epub 2021 Apr 12. PMID: 33764208.
- Levinson, S. C. (1997). Language and cognition: The cognitive consequences of spatial description in Guugu Yimithirr. Journal of Linguistic Anthropology, 7(1), 98–131. https://doi.org/10.1525/jlin.1997.7.1.98
- W3Techs. (2025). Usage statistics of content languages for websites. Retrieved January 2025, from https://w3techs.com/technologies/overview/content_language
Ilmu pengetahuan itu bisa datang dari mana saja, namun yang terpenting ialah menyelaraskan ilmu pengetahuan yang kita peroleh dengan sebuah tindakan. Setiap langkah, betapapun kecilnya, yang kita ambil hari ini adalah jejak yang kelak membentuk warisan perjalanan kita sebagai manusia.
Baca juga :





