Membangun Kesadaran dan Tanggung Jawab untuk Kelestarian Lingkungan Hidup dan Sungai di Yogyakarta
Kamis (16/1) Hari ini, saya kembali ke Jogja dan berkesempatan untuk berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Yayasan JAVLEC Indonesia di Zomia Co-Working Space, Fakultas Kehutanan UGM. Acara ini mempertemukan berbagai komunitas dan organisasi yang memiliki kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup, khususnya pengelolaan sungai di Yogyakarta.
Beberapa isu utama yang muncul dalam diskusi ini meliputi:
1. Isu Ekologi:
Ada banyak tantangan yang patut mendapat perhatian lebih. Pencemaran aliran sungai dari tumpukan sampah, limbah domestik, industri hingga pertanian masih menjadi ancaman utama hingga hari ini, dan ini merupakan PR kita bersama. Bagian hulu pun ternyata punya PR tersendiri, selain efek negatif dari deforestasi, ada juga pembangunan tak terencana di sempadan sungai untuk kepentingan pariwisata.
2. Kesadaran Sosial dan Ekonomi:
Pasca penutupan TPA Piyungan ternyata menjadi puncak gunung es baru di Yogyakarta. Kita masih terus mencari alternatif baru hingga hari ini, namun rendahnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan khususnya sungai sering menjadi penghalang utama. Usaha kita untuk mencari solusi, ternyata masih kalah cepat dari akumulasi sampah dan limbah yang terus menumpuk dari hari ke hari. Edukasi yang efektif dan berkelanjutan sangat diperlukan agar masyarakat dapat berperan aktif dalam perlindungan sungai dan lingkungan hidup. Saya yakin, melalui pendekatan yang tepat, kita dapat meningkatkan kesadaran kolektif tentang tanggung jawab kita terhadap alam dan lingkungan sekitar. Namun, prosesnya pasti akan memakan waktu yang tidak sebentar.
3. Kendala yang Perlu Diperhatikan:
Ada beberapa kendala yang menghambat upaya pengelolaan lingkungan hidup, khususnya daerah aliran sungai secara lebih efektif. Pertama, partisipasi masyarakat yang masih rendah dalam program-program pengelolaan lingkungan, yang menunjukkan kurangnya dukungan komunitas terhadap inisiatif yang dicetuskan. Kedua, proses perizinan yang rumit sering kali menjadi penghalang bagi individu atau kelompok yang ingin melakukan tindakan positif untuk lingkungan, membuat mereka merasa terhambat dalam upaya mereka. Ketiga, masih terdapat ego sektoral di antara lembaga pemerintah dan organisasi, yang menjadi penyebab terjadinya kebingungan dan kurangnya koordinasi dalam melaksanakan program-program lingkungan. Keempat, status tanah yang tidak jelas dan tumpang tindih perizinan dapat menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat dalam melakukan aktivitas yang berfokus pada pelestarian lingkungan. Terakhir, fakta bahwa isu lingkungan sering kali dianggap sebagai prioritas kedua (Isu Pinggiran) oleh pengambil keputusan. Dan ini menambah tantangan yang harus kita hadapi bersama.
4. Keterlibatan Berbagai Komunitas:
Saya merasa terinspirasi oleh keberadaan berbagai komunitas yang hadir dalam diskusi kali ini, masing-masing dengan inisiatif positifnya melalui program-program pengelolaan lingkungan hidup, sampah hingga kegiatan edukasi yang masih terus dilakukan hingga hari ini. Pengalaman kawan-kawan komunitas dan organisasi menunjukkan bahwa upaya kolektif, kerjasama dan kolaborasi antar komunitas dan organisasi sebenarnya dapat menciptakan dampak yang signifikan dalam menangani tantangan lingkungan hidup ke depannya, meskipun prosesnya cukup panjang.
Dari diskusi hari ini, semakin jelas bahwa kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, upaya kolektif dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga, masyarakat, dan komunitas sebenarnya adalah kunci untuk mewujudkan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi lingkungan hidup di Yogyakarta.
Prosesnya mungkin akan sangat panjang, tapi tidak ada yang tidak mungkin, apalagi jika kita berupaya secara konsisten dan terus percaya bahwa dengan mengambil langkah-langkah nyata, sekecil apapun. Kita dapat terus menjaga harapan itu, untuk generasi mendatang. Mari kita bersama-sama merangkul tanggung jawab ini dan membuat perubahan positif bagi lingkungan di sekitar kita.
Salam lestari!
Saya harap kawan-kawan mendapatkan manfaat dari artikel ini. Ilmu pengetahuan itu bisa diperoleh dari manapun, namun yang terpenting ialah menyelaraskan ilmu pengetahuan yang kita peroleh dengan sebuah tindakan.
Baca juga :
Tidak ada komentar: